Review Film Microhabitat

Hai, hari ini akan ada sedikit hal baru. Jeng-jeng review film. Review ini akan memiliki banyak spoiler🙊. 

Jadi akan kuceritakan perspektifku tentang sebuah film Korea Selatan yang berjudul Microhabitat. Pandanganku bisa saja salah karena menonton tanpa subtitle hehehe. Film ini sedikit mengingatkan aku sama film korsel lain yang berjudul Sunny. Tentang sebuah kelompok persahabatan anak muda yang bertemu kembali di masa dewasa. Usia mereka di waktu dewasa masih membuat aku bertanya-tanya tetapi Miso, mbak tokoh utama jelas terlihat menua lebih awal. Mereka- 5 orang yang satu geng dengan mbak Miso- berkumpul kembali di suasana pemakaman. Adegan yang sama dengan film Sunny kan :). 

Seolah memang bertemu harus di suasana duka atau suka saja. Dan seolah tak ada yang lebih duka dari pemakaman. Seolah tak ada kesulitan lain yang membuat mereka saling membutuhkan. Nah, mari kembali ke adegan awal karena pemakaman itu merupakan adegan agak terakhir. Mbak Miso membutuhkan teman-temannya, dia cuman butuh tempat untuk tidur.

Sambil membawa sepapan telur mbak Miso mendatangi teman-temannya satu per satu, hari demi hari. Mbak Miso ini benar-benar miskin btw, kayak burung, kais pagi makan petang :v. Tetapi bedanya burung masih punya sarang. Mbak Miso ini sepertinya orang yang tulus dan polos. Sambil menumpang tidur di rumah temannya, dia mengingatkan temannya tentang seperti apa mereka di masa lalu. Mbak 1 yang bisa bermain keyboard, mbak 2 yang bisa bermain gitar, dan mas 1 sudah bercerai atau berpisah mungkin.

Dua dari temannya menangis saat mbak Miso menginap. :))) Mbak homeless ini masih mampu bersimpati sama teman-temannya. Sebenarnya dia bisa saja dapat kesempatan untuk mempunyai rumah. Temannya yang kaya sempat menawarkan cek 1 juta won sambil menyuruhnya pergi. Tapi mbak Miso bilang kalau dia tidak butuh. Apa yang dibutuhkan mbak Miso sebetulnya? 

"Aku hanya butuh rokok, wiski, dan kamu!"

Hahaha iya kamu, Hansol (Ahn Jaehong), pacar mbak Miso di film ini. Mas pacar ini juga sepertinya hanya pekerja yang tinggal di mes. Satu-satunya adegan mbak Miso nangis tersedu-sedu hanya saat mas pacar pindah ke Saudi Arabia. 

Mbak Miso juga hanya hidup untuk lifestyle-nya. Dia bisa saja mengejar dunia (seperti tipe hidup nyaman pada umumnya). Tapi memang hanya itu-itu saja yang dia butuhkan dalam hidup. Mbak Miso pada akhirnya hanya tinggal di sebuah tenda di pinggir sungai. Dengan hampir seluruh rambut yang sudah menjadi uban, mbak Miso tetap menyesap wiski di bar langganannya.

Selain kerileksan dan ketangguhan mbak Miso yang jelas ditunjukkan dalam film ini. Ketulusan dan no self-centered mbak Miso juga bisa kita pelajarin. Bukan hanya hidup yang dijalankan tubuh ini yang lelah tetapi sekitar juga membutuhkan kita. Jadi mari menangis bersama sambil tetap menjalani hidup dan memedulikan sesama.

Temannya yang super kaya bisa saja membantu mbak Miso. Tapi kita tak bisa memaksa orang yang memang tidak membutuhkan hal tersebut hanya dengan uang. Sebaliknya dengan ketulusan, pemahaman, dan pemaafan bisa membantu hidup seseorang.

Sampai jumpa!

Komentar